TANGERANG SELATAN WEATHER

Minggu, 07 Juni 2026

Mengintegrasikan Data GFS dan Analisis Observasi

Memadukan Data Perkiraan dan Observasi Nyata

Setiap kali model Global Forecast System (GFS) menyelesaikan satu siklus forecast, hasilnya adalah jutaan angka — suhu, angin, tekanan, kelembapan — yang tersusun rapi dalam grid global 0,25° (~28 km). Tapi angka itu belum menjawab pertanyaan paling mendasar dalam meteorologi operasional: seberapa dekat prediksi model dengan apa yang sebenarnya terjadi di darat?

Proses membandingkan output model dengan data observasi disebut forecast verification. Ukuran paling dasar adalah bias: selisih antara nilai yang diamati stasiun dan nilai yang diprediksi model di lokasi yang sama. Bias sistematis yang besar mengindikasikan kelemahan model — bisa karena resolusi yang terlalu kasar untuk topografi lokal, parameterisasi fisika yang kurang akurat, atau kondisi awal dari sistem asimilasi data (GDAS) yang belum optimal.

GFS dijalankan empat kali sehari oleh NOAA/NCEP pada pukul 0000, 0600, 1200, dan 1800 UTC, menghasilkan forecast hingga 16 hari ke depan. Data tersedia secara publik melalui NOMADS (NOAA Operational Model Archive and Distribution System), termasuk layanan GRIB Filter yang memungkinkan kita mengunduh hanya variabel dan wilayah yang dibutuhkan.

Tutorial ini membangun satu pipeline lengkap: download data GFS dari NOMADS → load dengan cfgrib + xarray → buat observasi sintetis stasiun → interpolasi model ke lokasi stasiun dengan MetPy → hitung dan visualisasi bias. Alat yang digunakan: cfgrib, xarray, MetPy, numpy, pandas, dan matplotlib.

Menyiapkan Lingkungan dan Data

Sebelum mulai, pastikan environment sudah siap. cfgrib memerlukan library biner eccodes yang menangani decoding format GRIB2. Cara termudah adalah lewat conda:

conda install -c conda-forge cfgrib eccodes xarray metpy numpy pandas matplotlib

Jika menggunakan pip, install eccodes dulu secara terpisah (biner sistem), baru cfgrib:

# Ubuntu/Debian
sudo apt-get install libeccodes-dev
pip install cfgrib xarray metpy numpy pandas matplotlib

Snippet berikut memverifikasi instalasi dan sekaligus membuat dataset GFS sintetis yang mencerminkan struktur output GFS 0,25° nyata — variabel suhu 2 m, tekanan permukaan laut, dan komponen angin 10 m untuk wilayah Indonesia. Dataset sintetis ini dirancang khusus untuk tutorial sehingga tidak memerlukan koneksi ke NOMADS; dalam workflow nyata, kamu cukup mengganti blok pembuatan dataset dengan pemanggilan NOMADS GRIB Filter seperti ditunjukkan dalam komentar kode di bawah.

import os
import importlib
import numpy as np
import xarray as xr

# Verifikasi instalasi
print("Library versions:")
for lib in ["xarray", "cfgrib", "metpy", "numpy"]:
    mod = importlib.import_module(lib)
    ver = getattr(mod, "__version__", "n/a")
    print(f"  {lib}: {ver}")

# ----- Dataset sintetis GFS Indonesia -----
# Tutorial ini menggunakan data sintetis agar dapat dijalankan tanpa koneksi
# ke NOMADS. Dalam workflow nyata, gantikan blok ini dengan:
#
#   import requests
#   base = "https://nomads.ncep.noaa.gov/cgi-bin/filter_gfs_0p25.pl"
#   params = {
#       "dir": "/gfs.YYYYMMDD/HH/atmos",
#       "file": "gfs.tHHz.pgrb2.0p25.f000",
#       "var_TMP": "on", "var_PRMSL": "on", "var_UGRD": "on", "var_VGRD": "on",
#       "lev_2_m_above_ground": "on", "lev_10_m_above_ground": "on",
#       "lev_mean_sea_level": "on",
#       "leftlon": "95", "rightlon": "141", "toplat": "6", "bottomlat": "-11",
#   }
#   r = requests.get(base, params=params, timeout=120, stream=True)
#   r.raise_for_status()
#   with open("gfs_output.grib2", "wb") as f:
#       for chunk in r.iter_content(chunk_size=65536):
#           f.write(chunk)
#   # Kemudian buka dengan cfgrib:
#   ds_sfc = xr.open_dataset("gfs_output.grib2", engine="cfgrib",
#       backend_kwargs={"filter_by_keys": {"typeOfLevel": "heightAboveGround"}})
#   ds_msl = xr.open_dataset("gfs_output.grib2", engine="cfgrib",
#       backend_kwargs={"filter_by_keys": {"typeOfLevel": "meanSea"}})

GFS_OUT = "gfs_synthetic_indonesia.nc"

if not os.path.exists(GFS_OUT):
    rng = np.random.default_rng(seed=2024)

    # Grid 0,25° Indonesia: lat -11..6, lon 95..141
    lats = np.arange(-11.0, 6.25, 0.25)   # 69 titik
    lons = np.arange(95.0, 141.25, 0.25)  # 185 titik

    # Suhu 2 m: gradien meridional tropis ~300 K, variasi spatial halus
    lat2d, lon2d = np.meshgrid(lats, lons, indexing="ij")
    t2m_base = (
        302.0
        - 0.3 * np.abs(lat2d)           # sedikit lebih dingin menjauhi ekuator
        + 1.5 * np.sin(np.deg2rad(lon2d - 95) / 46 * np.pi)  # variasi zonal
        + rng.normal(0.0, 0.8, lat2d.shape)                   # noise
    )

    # PRMSL: sekitar 101325 Pa dengan variasi regional kecil
    prmsl = (
        101325.0
        + 200.0 * np.cos(np.deg2rad(lat2d) * 3)
        + rng.normal(0.0, 50.0, lat2d.shape)
    )

    # Angin 10 m: timuran lemah di tropis
    u10 = -2.5 + rng.normal(0.0, 1.0, lat2d.shape)   # komponen u (timuran = negatif)
    v10 =  0.5 + rng.normal(0.0, 0.8, lat2d.shape)   # komponen v

    ds = xr.Dataset(
        {
            "t2m":   (["latitude", "longitude"], t2m_base.astype("float32"),
                      {"units": "K", "long_name": "2 metre temperature"}),
            "prmsl": (["latitude", "longitude"], prmsl.astype("float32"),
                      {"units": "Pa", "long_name": "Pressure reduced to MSL"}),
            "u10":   (["latitude", "longitude"], u10.astype("float32"),
                      {"units": "m s**-1", "long_name": "10 metre U wind component"}),
            "v10":   (["latitude", "longitude"], v10.astype("float32"),
                      {"units": "m s**-1", "long_name": "10 metre V wind component"}),
        },
        coords={
            "latitude":  (["latitude"],  lats, {"units": "degrees_north"}),
            "longitude": (["longitude"], lons, {"units": "degrees_east"}),
        },
        attrs={
            "title": "Synthetic GFS-like 0.25deg surface analysis — Indonesia",
            "source": "Tutorial synthetic data (structure mirrors GFS 0.25deg f000)",
            "history": "Generated by tutorial snippet-1",
        },
    )
    ds.to_netcdf(GFS_OUT)
    size_kb = os.path.getsize(GFS_OUT) / 1024
    print(f"\nDataset sintetis dibuat: {GFS_OUT} ({size_kb:.1f} KB)")
else:
    size_kb = os.path.getsize(GFS_OUT) / 1024
    print(f"\nFile sudah ada: {GFS_OUT} ({size_kb:.1f} KB) — skip pembuatan")

print(f"Grid: {len(np.arange(-11.0, 6.25, 0.25))} lat × {len(np.arange(95.0, 141.25, 0.25))} lon titik")
Library versions:
  xarray: 2026.4.0
  cfgrib: 0.9.15.1
  metpy: 1.7.1
  numpy: 2.4.6

Dataset sintetis dibuat: gfs_synthetic_indonesia.nc (210.4 KB)
Grid: 69 lat × 185 lon titik

Pada workflow produksi, langkah ini digantikan oleh satu permintaan HTTP ke NOMADS GRIB Filter — pola URL-nya sudah ada di komentar kode. NOMADS menyimpan data GFS sekitar 10 hari ke belakang; untuk analisis historis yang lebih lama, gunakan NOMADS GRIB2 archive di AWS Open Data atau NCEI.

Memuat dan Menjelajahi Data GFS

Dengan dataset tersedia di working directory, kita buka dan eksplorasi strukturnya. Dataset sintetis disimpan dalam format NetCDF dan dibaca langsung dengan xarray. Ketika bekerja dengan file GRIB2 nyata dari NOMADS, kamu menggunakan cfgrib sebagai engine xarray — polanya identik, hanya argumen engine yang berbeda. GRIB2 bisa menyimpan beberapa jenis message dengan typeOfLevel yang berbeda, sehingga diperlukan filter_by_keys untuk memisahkan variabel per lapisan.

import xarray as xr

GFS_OUT = "gfs_synthetic_indonesia.nc"

# Buka dataset sintetis dengan xarray
# Untuk file GRIB2 nyata dari NOMADS, gunakan pola berikut:
#   ds_sfc = xr.open_dataset(grib_file, engine="cfgrib",
#       backend_kwargs={"filter_by_keys": {"typeOfLevel": "heightAboveGround"}})
#   ds_msl = xr.open_dataset(grib_file, engine="cfgrib",
#       backend_kwargs={"filter_by_keys": {"typeOfLevel": "meanSea"}})
# Dataset sintetis kita sudah menggabungkan semua variabel dalam satu file.

ds = xr.open_dataset(GFS_OUT)

# Pisahkan variabel permukaan dan PRMSL agar polanya paralel dengan GRIB2 nyata
ds_sfc = ds[["t2m", "u10", "v10"]]   # lapisan heightAboveGround
ds_msl = ds[["prmsl"]]               # lapisan meanSea

print("=== Dataset permukaan (heightAboveGround equivalent) ===")
print(f"Variabel  : {list(ds_sfc.data_vars)}")
print(f"Dimensi   : {dict(ds_sfc.dims)}")
print(f"Latitude  : {float(ds.latitude.min()):.2f} .. {float(ds.latitude.max()):.2f} deg")
print(f"Longitude : {float(ds.longitude.min()):.2f} .. {float(ds.longitude.max()):.2f} deg")

# Suhu 2 m
t2m = ds["t2m"]
print(f"\nVariabel t2m (suhu 2 m):")
print(f"  Shape   : {t2m.shape}")
print(f"  Units   : {t2m.attrs.get('units', 'K')}")
print(f"  Min/Max : {float(t2m.min()):.2f} / {float(t2m.max()):.2f} K")
print(f"  Min/Max : {float(t2m.min()) - 273.15:.1f} / {float(t2m.max()) - 273.15:.1f} °C")

print(f"\n=== Dataset PRMSL (meanSea equivalent) ===")
print(f"Variabel  : {list(ds_msl.data_vars)}")
print(f"PRMSL min/max: {float(ds['prmsl'].min())/100:.1f} / {float(ds['prmsl'].max())/100:.1f} hPa")
=== Dataset permukaan (heightAboveGround equivalent) ===
Variabel  : ['t2m', 'u10', 'v10']
Dimensi   : {'latitude': 69, 'longitude': 185}
Latitude  : -11.00 .. 6.00 deg
Longitude : 95.00 .. 141.00 deg

Variabel t2m (suhu 2 m):
  Shape   : (69, 185)
  Units   : K
  Min/Max : 296.24 / 304.66 K
  Min/Max : 23.1 / 31.5 °C

=== Dataset PRMSL (meanSea equivalent) ===
Variabel  : ['prmsl']
PRMSL min/max: 1013.3 / 1017.2 hPa

Output di atas memperlihatkan grid 0,25° (\(\approx 28\) km di ekuator) yang mencakup wilayah Indonesia — struktur yang sama persis dengan output GFS nyata. Suhu disimpan dalam satuan Kelvin; untuk perbandingan yang intuitif, kita konversi ke Celsius. Rentang nilai tropis yang realistis berada di kisaran 293–308 K (sekitar 20–35 °C di permukaan).

Membuat Observasi Sintetis untuk Stasiun

Untuk mendemonstrasikan workflow integrasi tanpa memerlukan akses ke MADIS atau jaringan observasi BMKG (yang memerlukan registrasi), kita buat observasi sintetis di sepuluh lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam praktik nyata, kamu bisa mengganti DataFrame ini dengan data METAR, AWS (Automatic Weather Station) BMKG, atau ekspor CSV dari MADIS — struktur kolom-nya identik.

Kita menggunakan seed random yang tetap sehingga hasilnya reproducible, dan menambahkan noise Gaussian \(\pm 2\) K di atas nilai model GFS interpolasi sebagai "observasi" — ini mensimulasikan variasi lokal yang tidak tertangkap oleh resolusi grid 0,25°.

import numpy as np
import pandas as pd

rng = np.random.default_rng(seed=42)

# Sepuluh stasiun sintetis di berbagai wilayah Indonesia
stations = pd.DataFrame({
    "name": [
        "Medan",        "Pekanbaru",    "Palembang",   "Jakarta",
        "Surabaya",     "Denpasar",     "Pontianak",   "Makassar",
        "Manado",       "Jayapura",
    ],
    "lat": [
         3.59,  0.51, -2.97, -6.21,
        -7.25, -8.67, -0.02, -5.14,
         1.48, -2.54,
    ],
    "lon": [
        98.67, 101.45, 104.74, 106.85,
       112.74, 115.17, 109.34, 119.41,
       124.84, 140.72,
    ],
})

# Observasi sintetis: 25–34 °C (298–307 K), noise Gaussian kecil
stations["obs_temp_K"] = (
    300.0 + rng.uniform(-5.0, 7.0, size=len(stations))
    + rng.normal(0.0, 1.5, size=len(stations))
)
stations["obs_temp_C"] = stations["obs_temp_K"] - 273.15

print("Observasi stasiun sintetis (seed=42):")
print(stations[["name", "lat", "lon", "obs_temp_K", "obs_temp_C"]].to_string(
    index=False, float_format=lambda x: f"{x:.2f}"
))
print(f"\nRata-rata observasi  : {stations['obs_temp_K'].mean():.2f} K ({stations['obs_temp_C'].mean():.1f} °C)")
print(f"Std observasi        : {stations['obs_temp_K'].std():.2f} K")
Observasi stasiun sintetis (seed=42):
     name   lat    lon  obs_temp_K  obs_temp_C
    Medan  3.59  98.67      305.61       32.46
Pekanbaru  0.51 101.45      301.43       28.28
Palembang -2.97 104.74      305.40       32.25
  Jakarta -6.21 106.85      305.06       31.91
 Surabaya -7.25 112.74      296.83       23.68
 Denpasar -8.67 115.17      305.42       32.27
Pontianak -0.02 109.34      304.69       31.54
 Makassar -5.14 119.41      302.99       29.84
   Manado  1.48 124.84      297.86       24.71
 Jayapura -2.54 140.72      300.33       27.18

Rata-rata observasi  : 302.56 K (29.4 °C)
Std observasi        : 3.29 K

Sepuluh stasiun ini tersebar dari Medan (Sumatra utara) hingga Jayapura (Papua), mencakup rentang iklim yang cukup bervariasi. Dalam analisis nyata, ukuran sampel yang representatif untuk wilayah Indonesia adalah sekitar 150–200 stasiun aktif dari jaringan BMKG.

Interpolasi Grid Model ke Stasiun dan Analisis Bias

Kini kita punya dua dataset: grid GFS 0,25° dan observasi di lokasi stasiun. Karena koordinat stasiun hampir pasti tidak tepat jatuh di grid point GFS, kita perlu interpolasi. MetPy menyediakan beberapa metode melalui metpy.interpolate.interpolate_to_points, termasuk Barnes dan nearest-neighbor. Untuk kasus sederhana dengan hanya sepuluh titik, nearest-neighbor dari xarray sudah cukup akurat.

Setelah mendapatkan nilai model di setiap stasiun, bias dihitung sebagai:

$$\text{bias} = T_{\text{obs}} - T_{\text{model}}$$

Bias positif berarti model terlalu dingin — output GFS di lokasi tersebut lebih rendah dari yang sebenarnya diamati. Bias negatif berarti model terlalu hangat.

Diagram diagram-1

Alur integrasi data GFS dan observasi stasiun: dari grid model ke nilai per titik pengamatan, kemudian menghitung bias sistematis.

import xarray as xr
import numpy as np
import pandas as pd

GFS_OUT = "gfs_synthetic_indonesia.nc"

# Reload dataset GFS sintetis (shared globals dari snippet-2, buka ulang agar aman)
ds = xr.open_dataset(GFS_OUT)
t2m_grid = ds["t2m"]   # shape: (latitude, longitude)

# Observasi dari snippet-3 (shared globals)
# stations sudah ada di namespace — jika tidak, rebuild cepat
if "stations" not in dir():
    rng = np.random.default_rng(seed=42)
    stations = pd.DataFrame({
        "name": ["Medan","Pekanbaru","Palembang","Jakarta","Surabaya",
                 "Denpasar","Pontianak","Makassar","Manado","Jayapura"],
        "lat":  [ 3.59,  0.51, -2.97, -6.21, -7.25, -8.67, -0.02, -5.14,  1.48, -2.54],
        "lon":  [98.67,101.45,104.74,106.85,112.74,115.17,109.34,119.41,124.84,140.72],
    })
    stations["obs_temp_K"] = (
        300.0 + rng.uniform(-5.0, 7.0, size=len(stations))
        + rng.normal(0.0, 1.5, size=len(stations))
    )

# Interpolasi nearest-neighbor: untuk setiap stasiun, pilih grid point terdekat
model_temps = []
for _, row in stations.iterrows():
    val = float(t2m_grid.sel(
        latitude=row["lat"], longitude=row["lon"], method="nearest"
    ))
    model_temps.append(val)

stations = stations.copy()
stations["model_temp_K"] = model_temps
stations["model_temp_C"] = stations["model_temp_K"] - 273.15
stations["bias_K"]       = stations["obs_temp_K"] - stations["model_temp_K"]

# Tampilkan tabel lengkap
print("Tabel bias suhu 2 m (observasi − model GFS):")
print(f"{'Stasiun':<12} {'Obs (°C)':>9} {'Model (°C)':>10} {'Bias (K)':>9}")
print("-" * 45)
for _, r in stations.iterrows():
    print(f"{r['name']:<12} {r['obs_temp_C']:>9.2f} {r['model_temp_C']:>10.2f} {r['bias_K']:>9.2f}")

print()
print(f"Mean bias : {stations['bias_K'].mean():+.3f} K")
print(f"Std bias  : {stations['bias_K'].std():.3f} K")
print(f"Min bias  : {stations['bias_K'].min():+.3f} K  ({stations.loc[stations['bias_K'].idxmin(),'name']})")
print(f"Max bias  : {stations['bias_K'].max():+.3f} K  ({stations.loc[stations['bias_K'].idxmax(),'name']})")
Tabel bias suhu 2 m (observasi − model GFS):
Stasiun       Obs (°C) Model (°C)  Bias (K)
---------------------------------------------
Medan            32.46      27.66      4.80
Pekanbaru        28.28      28.78     -0.49
Palembang        32.25      27.88      4.38
Jakarta          31.91      28.06      3.85
Surabaya         23.68      28.10     -4.42
Denpasar         32.27      26.48      5.79
Pontianak        31.54      28.76      2.77
Makassar         29.84      25.26      4.58
Manado           24.71      27.60     -2.90
Jayapura         27.18      27.51     -0.33

Mean bias : +1.803 K
Std bias  : 3.575 K
Min bias  : -4.422 K  (Surabaya)
Max bias  : +5.790 K  (Denpasar)

Tabel di atas menunjukkan perbedaan antara "observasi" sintetis dan nilai GFS di grid point terdekat untuk masing-masing stasiun. Dalam analisis real, mean bias yang mendekati nol dengan std yang kecil menandakan model berkinerja baik secara agregat. Bias besar di stasiun tertentu — misalnya Denpasar dengan bias +5,79 K — seringkali mencerminkan representasi topografi lokal yang tidak memadai dalam grid 0,25°, termasuk pengaruh tutupan lahan pesisir yang berbeda dari nilai grid.

Visualisasi dan Interpretasi Hasil

Statistik saja kurang intuitif. Dengan memplot bias per stasiun sebagai bar chart, kita bisa sekaligus membandingkan nilai observasi dan model, serta melihat arah dan besaran deviasi di setiap lokasi.

import matplotlib
matplotlib.use("Agg")
import matplotlib.pyplot as plt
import numpy as np

# Rebuild stations dari globals jika perlu
if "stations" not in dir() or "bias_K" not in stations.columns:
    # fallback: nilai hardcoded agar snippet mandiri
    import pandas as pd, numpy as np
    rng = np.random.default_rng(42)
    names = ["Medan","Pekanbaru","Palembang","Jakarta","Surabaya",
             "Denpasar","Pontianak","Makassar","Manado","Jayapura"]
    obs = 300.0 + rng.uniform(-5.0,7.0,10) + rng.normal(0,1.5,10)
    mdl = obs - (rng.normal(0,1.5,10))
    stations = pd.DataFrame({
        "name":       names,
        "obs_temp_C": obs - 273.15,
        "model_temp_C": mdl - 273.15,
        "bias_K":     obs - mdl,
    })

x = np.arange(len(stations))
width = 0.35

fig, (ax1, ax2) = plt.subplots(2, 1, figsize=(12, 8),
                                gridspec_kw={"height_ratios": [3, 2]})
fig.suptitle("Analisis Bias GFS vs Observasi Sintetis — Grid 0,25° Indonesia",
             fontsize=13, fontweight="bold")

# Panel atas: suhu observasi vs model
bars1 = ax1.bar(x - width/2, stations["obs_temp_C"], width, label="Observasi", color="#2196F3", alpha=0.85)
bars2 = ax1.bar(x + width/2, stations["model_temp_C"], width, label="GFS Model", color="#FF7043", alpha=0.85)
ax1.set_xticks(x)
ax1.set_xticklabels(stations["name"], rotation=30, ha="right", fontsize=9)
ax1.set_ylabel("Suhu 2 m (°C)", fontsize=10)
ax1.set_title("Suhu Observasi vs Model GFS per Stasiun", fontsize=11)
ax1.legend(fontsize=9)
ax1.grid(axis="y", alpha=0.4)
ax1.set_ylim(
    min(stations["obs_temp_C"].min(), stations["model_temp_C"].min()) - 2,
    max(stations["obs_temp_C"].max(), stations["model_temp_C"].max()) + 2,
)

# Panel bawah: bias (obs - model)
colors = ["#43A047" if b >= 0 else "#E53935" for b in stations["bias_K"]]
ax2.bar(x, stations["bias_K"], color=colors, alpha=0.85, zorder=3)
ax2.axhline(0, color="black", linewidth=0.8)
ax2.axhline(stations["bias_K"].mean(), color="navy", linewidth=1.2,
            linestyle="--", label=f"Mean bias = {stations['bias_K'].mean():+.2f} K")
ax2.set_xticks(x)
ax2.set_xticklabels(stations["name"], rotation=30, ha="right", fontsize=9)
ax2.set_ylabel("Bias = Obs − Model (K)", fontsize=10)
ax2.set_title("Bias Suhu per Stasiun (hijau = model terlalu dingin, merah = terlalu hangat)",
              fontsize=10)
ax2.legend(fontsize=9)
ax2.grid(axis="y", alpha=0.4, zorder=0)

plt.tight_layout()
plt.savefig("bias_gfs_stations.png", dpi=150, bbox_inches="tight")
print("Plot tersimpan: bias_gfs_stations.png")

snippet-5

Plot dua panel di atas memperlihatkan perbandingan langsung: panel atas menampilkan suhu observasi (biru) dan model GFS (oranye) per stasiun dalam satuan Celsius, sementara panel bawah menampilkan bias dalam Kelvin. Bar hijau menandakan model terlalu dingin (output GFS underestimate), sedangkan bar merah menandakan model terlalu hangat (overestimate). Garis putus-putus biru menunjukkan mean bias — idealnya mendekati nol.

Beberapa interpretasi penting dari pola bias yang mungkin muncul:

  • Bias positif konsisten (model terlalu dingin) di stasiun pesisir barat Sumatra bisa mencerminkan sea-breeze lokal yang tidak terresolusi oleh grid 0,25°.
  • Bias negatif di lokasi berketinggian tinggi umumnya terjadi karena GFS merepresentasikan terrain yang lebih rendah dari ketinggian stasiun sesungguhnya — model "melihat" udara yang lebih hangat di lapisan yang lebih rendah.
  • Std bias yang besar mengindikasikan bahwa error tidak bersifat sistematis global, melainkan bergantung pada karakteristik lokal tiap stasiun.

Langkah Berikutnya untuk Analisis Lanjut

Pipeline yang sudah kita bangun ini bersifat modular — setiap komponennya bisa diperluas secara independen.

Perluas ke analisis diurnal. GFS menyediakan output setiap jam untuk 120 jam pertama. Dengan mengunduh beberapa forecast hour dari siklus yang sama dan mengulang proses interpolasi, kita bisa melihat apakah bias bervariasi secara sistematis sesuai waktu lokal — misalnya, apakah GFS secara konsisten underestimate suhu siang hari di wilayah tertentu akibat konveksi tropis yang terjadi lebih awal dari yang dimodelkan.

Tambahkan level tekanan. Bias suhu permukaan hanyalah satu dimensi. Variabel yang sama di 850 hPa atau 500 hPa mencerminkan kualitas inisialisasi data assimilation pada lapisan yang berbeda. Gunakan filter_by_keys={"typeOfLevel": "isobaricInhPa", "level": 850} saat membuka GRIB2 untuk mengakses variabel pressure-level.

Gunakan observasi nyata. Gantikan DataFrame sintetis dengan data radiosonde atau METAR dari BMKG, atau akses MADIS (setelah registrasi di madis.noaa.gov) untuk mendapatkan ribuan observasi surface per jam. Struktur snippet-3 dan snippet-4 tidak berubah — cukup ganti sumber data.

Analisis ensemble. GFS Ensemble (GEFS, 30 anggota) memungkinkan perhitungan spread di setiap titik. Bias mean ensemble memberikan informasi tambahan tentang apakah ketidakakuratan bersifat deterministik atau probabilistik. Download GEFS melalui endpoint NOMADS yang serupa, dengan parameter ens sebagai dimensi tambahan.

Metode interpolasi lebih canggih. Untuk jaringan stasiun yang padat, coba metpy.interpolate.interpolate_to_grid dengan metode barnes — ini memberikan bobot inversely proportional dengan jarak menurut kernel Gaussian \(w = \exp(-r^2/\kappa)\), menghasilkan analisis yang lebih halus dibanding nearest-neighbor.

Eksplorasi artikel meteorologi lainnya di meteo.my.id — kunjungi meteo.my.id untuk topik lanjutan: analisis ensemble GFS, integrasi data Himawari-9, hingga penggunaan WRF untuk downscaling regional.

Referensi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar