TANGERANG SELATAN WEATHER

Rabu, 13 Mei 2026

Dipol Samudra Hindia dan Pola Curah Hujan

Sea surface temperature anomaly map of the Indian Ocean on October 17, 2019, showing the positive IOD pattern with warm anomalies in the west and cold anomalies east of Java and Sumatra Sumber: NASA Earth Observatory, menggunakan data MUR SST; gambar oleh Joshua Stevens (halaman sumber)

Apa Itu Dipol Samudra Hindia

Sebagian besar dari kita mengenal El Niño sebagai faktor utama kekeringan dan banjir di Indonesia. Tapi ada tetangga dekat ENSO yang pengaruhnya tidak kalah besar — Indian Ocean Dipole, atau disingkat IOD. Kita akan melihat bagaimana fenomena ini bekerja, mengapa peristiwa 2019 menjadi catatan ekstrem, dan apa konsekuensinya bagi pola curah hujan di tanah air.

IOD adalah fluktuasi suhu permukaan laut (SST) di Samudra Hindia tropis yang berlangsung secara periodik, biasanya mulai terbentuk sekitar Mei–Juni, mencapai puncak antara Agustus–Oktober, lalu meluruh saat monsun belahan selatan datang di akhir musim semi. Berbeda dari ENSO yang berpusat di Pasifik, IOD sepenuhnya berakar di Samudra Hindia — dan dampaknya terasa langsung di Indonesia, Sri Lanka, Australia, hingga Afrika Timur.

BMKG menempatkan Dipole Mode Index (DMI) sebagai salah satu indikator utama pemantauan variabilitas iklim yang memengaruhi curah hujan di Indonesia. Ketika DMI positif, curah hujan di Indonesia cenderung berkurang; ketika negatif, curah hujan cenderung meningkat, terutama di bagian barat Indonesia. Pemahaman terhadap IOD berarti pemahaman terhadap sebagian besar pola kering-basah yang tidak bisa dijelaskan oleh ENSO saja.

Bagaimana Dipol Samudra Hindia Bekerja

IOD didefinisikan secara kuantitatif melalui Dipole Mode Index. Berdasarkan definisi NOAA Climate.gov, DMI dihitung sebagai selisih antara anomali SST di dua kotak wilayah:

  • Western box: 10°S–10°N, 50°–70°E (barat laut Samudra Hindia, sekitar Teluk Aden dan Laut Arab)
  • Eastern box: 10°S–0°, 90°–110°E (timur laut Samudra Hindia, perairan barat Sumatra dan Jawa)

$$\text{DMI} = \text{SST anomaly}_\text{western box} - \text{SST anomaly}_\text{eastern box}$$

Ketika DMI positif, SST di barat lebih hangat dari normal dan di timur lebih dingin dari normal. Ketika negatif, pola sebaliknya terjadi.

Diagram diagram-iod-phases

Skema mekanisme fase positif dan negatif IOD: perbedaan SST mendorong perubahan pola konveksi dan angin yang pada akhirnya memengaruhi distribusi curah hujan.

Mekanisme intinya adalah Bjerknes feedback yang mirip dengan ENSO namun beroperasi di basin yang berbeda. Pada fase positif, SST yang lebih dingin di timur melemahkan angin barat di atas ekuator Samudra Hindia. Melemahnya angin barat berarti transport uap air dari Samudra Hindia menuju Indonesia dan Australia bagian barat daya berkurang drastis. Hasilnya adalah defisit curah hujan yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan di musim kering.

Fase negatif IOD bekerja sebaliknya: SST yang lebih hangat di timur memperkuat konveksi di atas perairan barat Sumatra dan Jawa, angin barat menguat, dan kelembapan yang masuk ke daratan meningkat. BOM mencatat bahwa IOD punya pengaruh lebih signifikan terhadap curah hujan Australia bagian tenggara dibanding ENSO selama periode austral winter–spring.

Peristiwa Ekstrem 2019 sebagai IOD Terkuat dalam Empat Dekade

Pada pertengahan 2019, IOD mulai terbentuk secara perlahan. Tapi September datang dengan lonjakan yang tidak biasa: angin timur yang kuat mempercepat pendinginan SST di perairan barat Sumatra dan Jawa, sementara SST di barat Samudra Hindia terus naik. Hasilnya adalah positive IOD paling ekstrem dalam setidaknya 40 tahun rekaman instrumental, dengan nilai DMI pada Oktober 2019 tercatat sebagai yang tertinggi sejak 1979.

Yang membuat 2019 luar biasa bukan hanya besarnya nilai DMI, melainkan bahwa peristiwa ini terjadi di bawah kondisi ENSO-neutral. Biasanya, positive IOD dipicu oleh angin timur yang juga menjadi bagian dari mekanisme El Niño. Tapi 2019 membuktikan bahwa IOD bisa berkembang secara independen, tanpa dukungan Pasifik tropis.

Dipole Mode Index time series graph from 1979 to 2019 highlighting the record 2019 positive IOD peak Sumber: NOAA Climate.gov, berdasarkan data ERSSTv5 (halaman sumber)

Grafik DMI 1979–2019 di atas memperlihatkan konteks multi-dekade: ada beberapa episode positif kuat sebelumnya, termasuk 1994 dan 1997, tapi tidak ada yang mendekati puncak 2019. Menurut NOAA Climate.gov, 2019 adalah peristiwa terkuat dalam setidaknya 40 tahun, sementara NASA Earth Observatory menyebutnya terkuat dalam 60 tahun berdasarkan perkiraan proxy yang lebih panjang.

Dampaknya terasa luas. Di Laut Arab, anomali SST yang hangat memicu aktivitas siklon yang tidak biasa — NASA Earth Observatory mendokumentasikan musim siklon North Indian Ocean yang sangat aktif sebagai konsekuensi langsung dari IOD 2019. Di Indonesia, kekeringan panjang di Sumatra dan Kalimantan memperpanjang musim kebakaran hutan. Di Australia, 2019 menjadi panggung bencana: "the extreme positive IOD event was a major player in Australia's catastrophic bushfire season", sebagaimana ditulis NOAA Climate.gov. Gabungan IOD positif ekstrem dan kondisi kering di daratan menghasilkan kondisi yang sempurna untuk kebakaran besar.

Dampak IOD pada Curah Hujan Indonesia dan Australia

Pola dampak IOD terhadap curah hujan sudah cukup konsisten di berbagai episode historis. Pada fase positif, melemahnya transport kelembapan dari barat menyebabkan defisit curah hujan yang signifikan di Indonesia, terutama di bagian barat dan selatan. Australia bagian tenggara juga terdampak — BOM mencatat bahwa positive IOD melemahkan angin barat melintasi Samudra Hindia, mengurangi transport kelembapan ke bagian selatan Australia, dan menghasilkan curah hujan musim dingin–semi yang jauh di bawah rata-rata.

Episode 1997 menjadi contoh bagaimana kombinasi bisa memperburuk situasi secara dramatis. Positive IOD yang kuat bertepatan dengan El Niño yang juga kuat, dan hasilnya adalah salah satu kekeringan terparah dalam catatan modern Indonesia. Kebakaran hutan skala besar melanda Sumatra dan Kalimantan, melepaskan kabut asap yang menutupi sebagian besar Asia Tenggara selama berbulan-bulan.

Di sisi lain, fase negatif bisa membawa curah hujan berlebih. BOM mencatat bahwa dua dari tiga tahun terbasah dalam catatan Australia — 1974 dan 2010 — terjadi di bawah kombinasi La Niña dan negative IOD yang saling memperkuat. Negative IOD saja sudah meningkatkan transport uap air ke arah daratan; ditambah La Niña yang juga membawa SST Pasifik Barat lebih hangat dari normal, hasilnya adalah kondisi banjir ekstrem di Australia pada 2010.

Ke depan, proyeksi iklim memberikan peringatan yang perlu diperhatikan. NOAA Climate.gov mengutip bahwa extreme positive IOD events diproyeksikan terjadi hampir tiga kali lebih sering di abad ke-21 dibanding abad ke-20. BMKG juga memasukkan analisis ENSO–IOD terkopel dalam produk prakiraan musiman rutinnya, dengan catatan bahwa co-occurrence positive IOD dan El Niño memperkuat risiko kekeringan di Indonesia dibanding masing-masing fenomena secara terpisah. Pemantauan DMI secara kontinu bukan sekadar akademik — ini bagian langsung dari sistem peringatan dini curah hujan.

Untuk 2025, BMKG memproyeksikan IOD tetap berada di fase netral sepanjang tahun, dengan indeks berkisar antara \(-0{,}42\) hingga \(+0{,}22\). Artinya tidak ada sinyal IOD kuat yang diharapkan memperburuk atau memperlancar curah hujan secara signifikan di luar variabilitas normal.

Eksplorasi artikel meteorologi lainnya di meteo.my.id — kunjungi https://meteo.my.id untuk ulasan ENSO, MJO, dan fenomena iklim lain yang memengaruhi cuaca Indonesia.

Referensi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar